Tuesday, December 01, 2009

Tanda yang tak pernah berhenti bertanya

Dari awal apa
Jatuh menuju kemana

Ketika siapa
Bertanya kenapa

Lantas bagaimana
Cerca bertanya-tanya

Dijawab di mana
Tanda di belakang mengapa

Ujung berujung kata
Lingkar melingkar muara segala tanya

Surabaya, 28 November 2009

Sunday, November 22, 2009

Gadis kecil, dengan arang di mukanya

Gadis kecilku,
Berlarian sepanjang lorong pendapa
Melihatku yang baru menggeber tikar dan buku

Dari kejauhan, glendotan pada ibu
Yang masih sibuk mengaduk kopi
Tangis lirih merengek minta dihantar
"Aku mau menulis bu.."

Lama waktu, mendekapkan kau
Di dadaku rindu pada masa kanak kanak

Pensil menggambar
Kertas digambar
Aneka rupa tanpa warna

"Mana mbak pensil warna, aku mau mewarnai"
Kau tau dik, hidupmu akan melebihi pelangi
Pensil warnapun tak mampu tampung indahnya

Di lorong ini,
Gemarmu memandangi pertunjukkan
Topeng monyet, keliaran tingkah
Yang kau tiru lugu

Kau malas membaca
Walau matamu hapal huruf di lembar-lembar buku
Manja, selalu inginkan aku terus berceloteh

Ketika gadis kecilku terancam
Pelukkan ku akan beralih
Lantas kau berubah jadi
Burung elang yang galak

Kepakan sayap dengan kasarnya
Dan lengkingan riuh, memekakkan
Lalu diam-diam kau menangis
Sedikit ku biarkan kemarahanmu
Agar mau sedikit berbagi

Gadis kecilku, arang di mukamu
Perlahan terhapus tetes hujan
Dan lembut sentuhan waktu
Akan melingkarimu, senantiasa

Surabaya, 23 November 2009

Friday, November 20, 2009

Memuarakan Kisah, Sementara

Seketika halamanku menjadi begitu ramai
Gegap riuh kembang tertancap di reranting luka

Kesendirian,
Tentang gemericik rindu juga pekat pilu
Sekilas senyum menarik tubuh terburu
Jauh keseberang ikuti para pemburu

Seketika jendela rumah digedor angin
Memaksa jiwa jiwa ranum menari perih

Berlarian,
Pada kata aku telikung menuju muara kisah
Pendulum bergoyang, bertanya kemana
Dijejakkan langkah kembali melanglang

Seketika reriuh hujan berubah senyap
Menampar kenangan yang rikuh ketakutan

Tubuhku melekuk di kotak hias berenda
Sembunyikan diri, di bait bait bernada

Kebiri sebentar sepi, menuju ruang impi

Ubah seribu wajah lelucon
Berdongeng tentang mimpi

: Yang tak pernah dimiliki

Surabaya, 21 November 2009

Wednesday, November 18, 2009

Di hujan kedua, terburai kekang

Di hujan kedua
Aroma tubuh cumbui aroma tanah

Kusesapi ngilu malam gerah
Bulan terlalu sibuk berbenah

Langit pekat setengah tengadah
Tatapan sinis sepasang mata
Menyelinap di balik tirai jendela

Rerintih hujan,
Ingatkan aku pada ombak matamu
Ketika sisa mabuk tinggal sejengkal.
Di pelataran rumahku, dulu

Jengah berdiam, aku datangi sendiri pagi

Mengadu...
Kencang Berlari...

Tinggalkan dekapan kelam

Mengejar kau di balik pohon jati
Bonggol akar rapat, de javu basah
Sisa hujan di daun rindu yang resah

Pelukan gugurkan sumpah
Memburai ikatan kekang

Catat janji tentang hujan
Agar kau dan aku
Tak lagi tanam bibit bara

: Di sekat-sekat dada

Sby, 18 November 2009

Sunday, October 25, 2009

Sebuah Perjanjian

Perjanjian itu bukan antara kau dan aku, tapi aku dan langit
Langit yang menangis diam - diam di balik punggungmu

Tak mampuku tinggikan kepala, tanda tangani perjanjian itu
Mana pantas aku mengaku sederajat dengan luasnya langit
Aku tak lagi bernyali, relakan yang bukan milikku

Di balik tengkukmu ada mendung terbendung
Ia selalu tunduk pada titahmu
Dan ini musimku runtuh di geram gemuruh
Yang tak pernah kau bacai

Maka dengan kesadaran dan kerelaan hati
Aku pasrahkan diri digenggam jejari langit
Entah ini pertanda kalah atau apa.

Tapi sungguh aku tak ada daya
Ketika kau berkali kali kiblatkan kejujuran
Agar aku ingkar pada janji itu
Terpaksa, menindih kepala juga dada

Segala sesuatu harus dikekang keterpaksaan
Tak ada angka bulat untuk sebuah keputusan
Bukankah peperangan ada di mana saja
Bahkan di dalam jasad dan juga jiwa

Bisakah sedikit kau pahami, langit
Sebutmu penjaga gerbang surga
Dan aku hanya hujan gerimis kecil
Yang sejenak menggenang di dada

Mungkin tiada harap, selain mimpi yang meluap
Perjanjian telah di buat, bebat diri pada jarak
Inikah bermuara takdir perjumpaan?

Surabaya, Okt 2009

Friday, October 23, 2009

Sajak sederhana buatmu, Ibu

Kepalamu pangkal kelopak kembang anakmu
Dadamu tersungkur jiwa aku yang berlarian,
Semerawut

Pangkuanmu tempatku merajuk
Sering kutipu sampai kau terbujuk

Laku langkah ayah ladang surgamu
Dan Tapakmu rumah aroma surgaku

Aku rindu rumah, ibu
Terngiang ayat bijakmu
Tapi aku sering ingkar
Cepat berlalu melupa salah

Kunci rumah sudah kau cabut dari lobang
Karna anakmu pulang terlampau larut
Dan kaupun pasti lelah menunggu

Mengendap-endap, mencurimu
Mencuri mimpi di kerut usia
Tentang angan anak-anakmu

Ibu
Kasihmu terlampau sederhana
Untuk kubaca

Tapi
Pelukmu terlampau megah
Untuk ku selalu rebah

Surabaya, 23 Oktober 2009
46 usia ibuku sekarang

Penanda Menuju Pasrah

Dimana letak kepasrahan itu
Kebebasan memiliki diri
Sketsakan harap bermimpi

Kepulanganku adalah mutlak

Ruang suam amarah mengerak
Kotak mantra disusun rapih meninggi
Jatuh berantakan tersapu ringkih waktu

Di mana kutuju rindu
Biruku semburan ungu
Pilu meragu tapi angkuh

Wajahku seperti cerminmu
Berpeluk jiwa aku dan kau
Jasad terlepas entah dimana
Keharusan meratapimu bebas

Sungguh aku belum bisa akur
Pada jarak yang telah diukur
Mencacati judul kisah terkubur
Rupa duka tentang kau kabur

Langkah masih sempoyongan
Berpeluk dekapan dada
Redamkan tangisan diri

Kepulangan berarti kembali

Susuri tempat dulu kau berdiri
Berdiam mencuri pandang aku
Ketika fasih mencibir, guratkan caci

Mata memerah, kau baca benci
Tapi tak kau lihat di sana
Genangan keruh, mengombak
Pasang.. bukan surut

Tak ada kematian yang pasrah
Begitupun kehilangan yang lepas

Puing puing jiwa kususun ulang
Tapi masih banyak keping hilang
Mungkin sengaja kau bawa
Menuju pada puncak kata

Wahai kembara luka
Tangan gaib itu tak juga gapai kau
Aku tak ingin segera tuntas ikhlas
Kembalimu adalah kepulanganku

Akh...
Belum juga ku mampu sadarkan diri
Yang ada cuma aku dan rupa imaji

Surabaya, 22 Oktober 2009

Wednesday, October 21, 2009

Kepulangan menyeret jejak

Hari menguzur matahari sinar redup
Jejak berputar di lingkar simpang tujuh
Di mana gang jalan satu arah serupa arteri
Mendenyutkan detak kerinduan yang basah

Tibalah kemalaman kota
Berdenyir silir-silir angin makin melenakan

Tubuhku bayangan semu kehilangan kepak
Sayap berbulu lepas tak meninggi
Disembur wewarna ungu lembut langit

Terbangku bermata sebelah
Tak mampuku tangkap mangsa di balik pepohonan
Ladang padang tak menerang di ketinggian sana

Sungguhkah aku melepas jiwa bebas
Kesejatian mimpi tetaplah hanya coretan harap

Aku menuju kepulangan
Tapi sungguh tak ada pembeda jeda waktu
Sejak kepergian yang memanggul sekarung lelah

Tubuh kota menjadi turbin listrik
Berputar ulang diguyur air-air suling
Roh pinggir kota berbentuk gitar petik
Mendayu lagu sendu senyum garing

Kemalangan atau kenikmatan ini
Merasuk hangat pelukan sang jenaka
Di luaran, jiwa peratap sibuk mencibir
Berdekap damai pada rindu yang lelap

Perbatasan, rindu tabu rayu meragu
Tak ada yang patut di sembunyikan
Perjanjian tetap nyala dirayakan
Dan kepulangan bawa kembali jejak

Perjalanan, 21 Oktober 2009