Dari awal apa
Jatuh menuju kemana
Ketika siapa
Bertanya kenapa
Lantas bagaimana
Cerca bertanya-tanya
Dijawab di mana
Tanda di belakang mengapa
Ujung berujung kata
Lingkar melingkar muara segala tanya
Surabaya, 28 November 2009
Tuesday, December 01, 2009
Tanda yang tak pernah berhenti bertanya
Sunday, November 22, 2009
Gadis kecil, dengan arang di mukanya
Gadis kecilku,
Berlarian sepanjang lorong pendapa
Melihatku yang baru menggeber tikar dan buku
Dari kejauhan, glendotan pada ibu
Yang masih sibuk mengaduk kopi
Tangis lirih merengek minta dihantar
"Aku mau menulis bu.."
Lama waktu, mendekapkan kau
Di dadaku rindu pada masa kanak kanak
Pensil menggambar
Kertas digambar
Aneka rupa tanpa warna
"Mana mbak pensil warna, aku mau mewarnai"
Kau tau dik, hidupmu akan melebihi pelangi
Pensil warnapun tak mampu tampung indahnya
Di lorong ini,
Gemarmu memandangi pertunjukkan
Topeng monyet, keliaran tingkah
Yang kau tiru lugu
Kau malas membaca
Walau matamu hapal huruf di lembar-lembar buku
Manja, selalu inginkan aku terus berceloteh
Ketika gadis kecilku terancam
Pelukkan ku akan beralih
Lantas kau berubah jadi
Burung elang yang galak
Kepakan sayap dengan kasarnya
Dan lengkingan riuh, memekakkan
Lalu diam-diam kau menangis
Sedikit ku biarkan kemarahanmu
Agar mau sedikit berbagi
Gadis kecilku, arang di mukamu
Perlahan terhapus tetes hujan
Dan lembut sentuhan waktu
Akan melingkarimu, senantiasa
Surabaya, 23 November 2009
Friday, November 20, 2009
Memuarakan Kisah, Sementara
Seketika halamanku menjadi begitu ramai
Gegap riuh kembang tertancap di reranting luka
Kesendirian,
Tentang gemericik rindu juga pekat pilu
Sekilas senyum menarik tubuh terburu
Jauh keseberang ikuti para pemburu
Seketika jendela rumah digedor angin
Memaksa jiwa jiwa ranum menari perih
Berlarian,
Pada kata aku telikung menuju muara kisah
Pendulum bergoyang, bertanya kemana
Dijejakkan langkah kembali melanglang
Seketika reriuh hujan berubah senyap
Menampar kenangan yang rikuh ketakutan
Tubuhku melekuk di kotak hias berenda
Sembunyikan diri, di bait bait bernada
Kebiri sebentar sepi, menuju ruang impi
Ubah seribu wajah lelucon
Berdongeng tentang mimpi
: Yang tak pernah dimiliki
Surabaya, 21 November 2009
Wednesday, November 18, 2009
Di hujan kedua, terburai kekang
Di hujan kedua
Aroma tubuh cumbui aroma tanah
Kusesapi ngilu malam gerah
Bulan terlalu sibuk berbenah
Langit pekat setengah tengadah
Tatapan sinis sepasang mata
Menyelinap di balik tirai jendela
Rerintih hujan,
Ingatkan aku pada ombak matamu
Ketika sisa mabuk tinggal sejengkal.
Di pelataran rumahku, dulu
Jengah berdiam, aku datangi sendiri pagi
Mengadu...
Kencang Berlari...
Tinggalkan dekapan kelam
Mengejar kau di balik pohon jati
Bonggol akar rapat, de javu basah
Sisa hujan di daun rindu yang resah
Pelukan gugurkan sumpah
Memburai ikatan kekang
Catat janji tentang hujan
Agar kau dan aku
Tak lagi tanam bibit bara
: Di sekat-sekat dada
Sby, 18 November 2009
Sunday, October 25, 2009
Sebuah Perjanjian
Perjanjian itu bukan antara kau dan aku, tapi aku dan langit
Langit yang menangis diam - diam di balik punggungmu
Tak mampuku tinggikan kepala, tanda tangani perjanjian itu
Mana pantas aku mengaku sederajat dengan luasnya langit
Aku tak lagi bernyali, relakan yang bukan milikku
Di balik tengkukmu ada mendung terbendung
Ia selalu tunduk pada titahmu
Dan ini musimku runtuh di geram gemuruh
Yang tak pernah kau bacai
Maka dengan kesadaran dan kerelaan hati
Aku pasrahkan diri digenggam jejari langit
Entah ini pertanda kalah atau apa.
Tapi sungguh aku tak ada daya
Ketika kau berkali kali kiblatkan kejujuran
Agar aku ingkar pada janji itu
Terpaksa, menindih kepala juga dada
Segala sesuatu harus dikekang keterpaksaan
Tak ada angka bulat untuk sebuah keputusan
Bukankah peperangan ada di mana saja
Bahkan di dalam jasad dan juga jiwa
Bisakah sedikit kau pahami, langit
Sebutmu penjaga gerbang surga
Dan aku hanya hujan gerimis kecil
Yang sejenak menggenang di dada
Mungkin tiada harap, selain mimpi yang meluap
Perjanjian telah di buat, bebat diri pada jarak
Inikah bermuara takdir perjumpaan?
Surabaya, Okt 2009
Friday, October 23, 2009
Sajak sederhana buatmu, Ibu
Kepalamu pangkal kelopak kembang anakmu
Dadamu tersungkur jiwa aku yang berlarian,
Semerawut
Pangkuanmu tempatku merajuk
Sering kutipu sampai kau terbujuk
Laku langkah ayah ladang surgamu
Dan Tapakmu rumah aroma surgaku
Aku rindu rumah, ibu
Terngiang ayat bijakmu
Tapi aku sering ingkar
Cepat berlalu melupa salah
Kunci rumah sudah kau cabut dari lobang
Karna anakmu pulang terlampau larut
Dan kaupun pasti lelah menunggu
Mengendap-endap, mencurimu
Mencuri mimpi di kerut usia
Tentang angan anak-anakmu
Ibu
Kasihmu terlampau sederhana
Untuk kubaca
Tapi
Pelukmu terlampau megah
Untuk ku selalu rebah
Surabaya, 23 Oktober 2009
46 usia ibuku sekarang
Penanda Menuju Pasrah
Dimana letak kepasrahan itu
Kebebasan memiliki diri
Sketsakan harap bermimpi
Kepulanganku adalah mutlak
Ruang suam amarah mengerak
Kotak mantra disusun rapih meninggi
Jatuh berantakan tersapu ringkih waktu
Di mana kutuju rindu
Biruku semburan ungu
Pilu meragu tapi angkuh
Wajahku seperti cerminmu
Berpeluk jiwa aku dan kau
Jasad terlepas entah dimana
Keharusan meratapimu bebas
Sungguh aku belum bisa akur
Pada jarak yang telah diukur
Mencacati judul kisah terkubur
Rupa duka tentang kau kabur
Langkah masih sempoyongan
Berpeluk dekapan dada
Redamkan tangisan diri
Kepulangan berarti kembali
Susuri tempat dulu kau berdiri
Berdiam mencuri pandang aku
Ketika fasih mencibir, guratkan caci
Mata memerah, kau baca benci
Tapi tak kau lihat di sana
Genangan keruh, mengombak
Pasang.. bukan surut
Tak ada kematian yang pasrah
Begitupun kehilangan yang lepas
Puing puing jiwa kususun ulang
Tapi masih banyak keping hilang
Mungkin sengaja kau bawa
Menuju pada puncak kata
Wahai kembara luka
Tangan gaib itu tak juga gapai kau
Aku tak ingin segera tuntas ikhlas
Kembalimu adalah kepulanganku
Akh...
Belum juga ku mampu sadarkan diri
Yang ada cuma aku dan rupa imaji
Surabaya, 22 Oktober 2009
Wednesday, October 21, 2009
Kepulangan menyeret jejak
Hari menguzur matahari sinar redup
Jejak berputar di lingkar simpang tujuh
Di mana gang jalan satu arah serupa arteri
Mendenyutkan detak kerinduan yang basah
Tibalah kemalaman kota
Berdenyir silir-silir angin makin melenakan
Tubuhku bayangan semu kehilangan kepak
Sayap berbulu lepas tak meninggi
Disembur wewarna ungu lembut langit
Terbangku bermata sebelah
Tak mampuku tangkap mangsa di balik pepohonan
Ladang padang tak menerang di ketinggian sana
Sungguhkah aku melepas jiwa bebas
Kesejatian mimpi tetaplah hanya coretan harap
Aku menuju kepulangan
Tapi sungguh tak ada pembeda jeda waktu
Sejak kepergian yang memanggul sekarung lelah
Tubuh kota menjadi turbin listrik
Berputar ulang diguyur air-air suling
Roh pinggir kota berbentuk gitar petik
Mendayu lagu sendu senyum garing
Kemalangan atau kenikmatan ini
Merasuk hangat pelukan sang jenaka
Di luaran, jiwa peratap sibuk mencibir
Berdekap damai pada rindu yang lelap
Perbatasan, rindu tabu rayu meragu
Tak ada yang patut di sembunyikan
Perjanjian tetap nyala dirayakan
Dan kepulangan bawa kembali jejak
Perjalanan, 21 Oktober 2009

